Saturday, February 11, 2017

Pemuda Pakar Surga

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ


Di satu bagian Masjid Nabawi tersedia satu ruang yang saat ini dipakai sebagai ruang khadimat.

Dahulu di tempat itulah Rasulullah SAW senantiasa berkumpul bersama para Shahabatnya radhiallaahu 'anhum. di sana Beliau SAW menyampaikanshiyyah, bermudzakarah, dan ta'lim.

Suatu ketika, saat Rasulullah SAW memberbagi taushiyyahnya, tiba-tiba Beliau SAW berucap,
"Sebentar lagi bakal datang seorang pemuda pakar surga."
Para Shahabat r.hum pun saling bertatapan, di sana ada Abu Bakar Ash Shiddiqradhiallaahu 'anhu, Utsman bin Affanradhiallaahu 'anhu, Umar bin Khattabradhiallaahu 'anhu, dan berbagai Shahabat lainnya.

Tak lama kemudian, datanglah seorang pemuda yang sederhana.

Pakaiannya sederhana, penampilannya sederhana, wajahnya tetap basah dengan air wudhu.
Di tangan kirinya menenteng sandalnya yang sederhana pula.

Di peluang lain, ketika Rasulullah SAW berkumpul dengan para Shahabatnya, Beliau SAW pun berucap, "Sebentar lagi anda bakal menonton seorang pemuda pakar surga." dan pemuda sederhana itu datang lagi, dengan keadaan yang tetap tetap sama, sederhana. para shahabat yang berkumpul pun terheran-heran, siapa dengan pemuda sederhana itu?

Bahkan hingga ketiga kalinya Rasulullah SAW berbicara faktor yang serupa. bahwa pemuda sederhana itu merupakan seorang pakar surga. seorang shahabat, Mu'adz bin Jabbalradhiallaahu 'anhupun merasa penasaran. amalan apa yang dimilikinya hingga-sampai Rasul menyebutnya pemuda pakar surga?

Maka Mu'adzradhiallaahu'anhu berusaha mencari tahu. Ia berdalih sedang berselisih dengan ayahnya dan meminta izin untuk menginap berbagai malam di kediaman si pemuda tersebut. Si pemuda pun mengizinkan. Dan mulai saat itu Mu'adz memantau setiap amalan pemuda tersebut.

Malam pertama, ketika Mu'adz bangun untuk tahajud, pemuda tersebut tetap terlelap hingga datang waktu shubuh, ba'da shubuh, mereka bertilawah. diamatinya wacana pemuda tersebut yang tetap terbata-bata, dan tidak begitu fasih. ketika masuk waktu dhuha, Mu'adz bergegas menunaikan shalat dhuha, sementara pemuda itu tidak.

Keesokkannya, Mu'adz kembali memantau amalan pemuda tersebut. malam tanpa tahajjud, wacana tilawah terbata-bata dan tidak begitu fasih, dan di pagi harinya tidak shalat dhuha.

Begitu pun di hari ketiga, amalan pemuda itu tetap tetap sama. bahkan di hari itu Mu'adz shaum sunnah, sedangkan pemuda itu tidak shaum sunnah.

Mu'adz pun terus heran dengan ucapan Rasulullah SAW.
Tidak ada yang istimewa dari amalan pemuda itu,
namun Beliau SAW menyebutnya sebagai pemuda pakar surga.
hingga Mu'adz pun langsung mengungkapkan keheranannya pada pemuda itu.

"Wahai Saudaraku, sesungguhnya Rasulullah SAW menyebut-nyebut engkau sebagai pemuda pakar surga. namun seusai aku amati, tidak ada amalan istimewa yang engkau amalkan. engkau tidak tahajjud, bacaanmu pun tidak begitu fasih, pagi hari pun kau lalui tanpa shalat dhuha, bahkan shaum sunnah pun tidak. lalu amal apa yang engkau miliki jadi Rasul SAW menyebutmu sebagai pakar surga?"

"Saudaraku, aku terbukti belum sanggup tahajjud. bacaanku pun tidak fasih. aku juga belum sanggup shalat dhuha. dan aku pun belum sanggup untuk shaum sunnah. namun ketahuilah, telah berbagai minggu ini aku berusaha untuk menjaga tiga amalan yang baru sanggup aku amalkan."

"Amalan apakah itu?"

"Pertama, aku berusaha utk tidak menyakiti orang lain. sekecil apapun, aku berusaha untuk tidak menyinggung perasaan orang lain. baik itu terhadap bunda bapakku, istri dan anak-anakku, kerabatku, tetanggaku, dan semua orang yang nasib di sekelilingku. aku tidak ingin mereka tersakiti alias bahkan tersinggung oleh ucapan dan kelakuanku."

"Yang kedua, aku berusaha untuk tidak marah dan memaafkan. sebab yang aku tahu bahwa Rasullullah tidak suka marah dan mudah memaafkan."

"Subhaanallaah... lalu kemudian?"

"Dan yang terbaru, aku ber- usaha untuk menjaga tali shilaturrahim. menjalin hubungan baik dengan siapapun. dan menyambungkan kembali tali shilaturrahim yg terputus."

"Demi Allah...engkau sangatlah pakar surga. ketiga amalan yang engkau sebut itulah amalan yang paling susah aku amalkan."

Wallaahu a'lam bish- shawwab.

Semoga kami dapat mengambil hikmahna.ُ

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُُ

Share this

0 Comment to "Pemuda Pakar Surga"